Yayasan Ar-Risalah Alkhairiyah yang mempunyai visi “i’la-i kalimatillah dengan menjadi lembaga dakwah yang bercirikan keunggulan dan profesionalisme” dalam menjalankan misinya memandang perlu untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi keagamaan berupa Ma’had ‘Aly, pandangan tersebut dilatar belakangi terutama oleh hal-hal berikut :
1. Kondisi internal umat Islam :
1.1. Semakin jauhnya umat Islam khususnya masyarakat umum dari pemahaman agama yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad yang ditandai dengan lengangnya masjid-masjid dan mushala pada kegiatan ibadah rutin seperti shalat berjamaah maupun kegiatan kerohanian lainnya seperti pengajian, i’tikaf dan lain-lain, bahkan tidak sedikit mesjid yang kemudian betul-betul ditinggal jamaahnya (mahjurah), yang lebih memprihatinkan terjadi beberapa kasus di mana mesjid yang dibangun dengan dana donatur berubah fungsi menjadi kandang ternak. Sementara itu out put dari Perguruan Tinggi Islam yang ada justru lebih tergiring untuk menggeluti jalur profesi formal dan terobsesi untuk menjadi pegawai negeri di instansi-instansi resmi yang justru tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah.
1.2. Rendahnya kompetensi rata-rata sarjana perguruan tinggi Islam dalam penguasaan Bahasa Arab yang merupakan bahasa Al-Qur’an, Hadits, dan referensi-referensi utama keilmuan Islam. Hal tersebut berdampak pada lemahnya animo untuk menelaah kitab-kitab klasik yang menjadi referensi utama keilmuan Islam setelah Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan bahkan cendrung untuk menjadikan literatur non Islam sebagai landasan ilmiyah dari kajian-kajian Islam seperti yang dapat kita tangkap dari penggunaan kosa kata asing (Inggris, latin, dll) untuk istilah-istilah yang bukannya tidak ada dalam bahasa aslinya (Arab). Fenomena lainnya adalah perasaan cukup untuk mengandalkan buku-buku terjemahan yang kian marak namun sayang tidak jarang mengabaikan amanah ilmiyah dalam alih bahasa.
1.3. Munculnya ajaran, pemahaman dan pemikiran yang mengatasnamakan Islam tetapi sudah sangat jauh melenceng dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah serta kaidah-kaidah dasar beragama Islam, namun tetap mendapat tempat dan sambutan di tengah masyarakat Islam karena lemahnya ilmu.

2. Faktor eksternal.
2.1. Aktifitas para aktifis dan pemuka agama lain yang terus bergiat untuk menarik setiap individu mengikuti iman mereka termasuk di antaranya umat Islam.
2.2. Budaya ibahiyah (permisivisme) yang semakin meraja lela dengan sokongan media masa yang nyaris tidak berbatas yang kian menggerus akidah dan perilaku Islami umat.
2.3. Hegemoni pola pikir barat terhadap cara pandang umat Islam sehingga umat Islam merasa risih untuk menampilkan karakter dan ciri keislaman mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *